Breaking

Selisih Harga Telur Sidrap-Makassar Capai Rp 24 Ribu: Mengapa Peternak Tak Menikmati Lonjakan di Tingkat Konsumen?

RE
Minggu, 16 Agustus 2026
Selisih Harga Telur Sidrap-Makassar Capai Rp 24 Ribu: Mengapa Peternak Tak Menikmati Lonjakan di Tingkat Konsumen?
Harga telur ayam ras di Sidrap tercatat Rp 41.000–Rp 43.000 per rak, sementara di Makassar mencapai Rp 65.000 per rak.
30 butir dihargai Rp 41.000–Rp 43.000. Di Makassar, harganya bisa menembus Rp 65.000. Lonjakan di tingkat konsumen ini tidak otomatis menggemukkan kantong peternak. Lalu, ke mana selisihnya? ISI:

SIDRAP — Sebutir telur memiliki bentuk, putih, dan kuning yang sama. Namun, ketika berpindah dari kandang di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) ke pasar di Makassar, nilainya berubah drastis. Di Sidrap, harga telur ayam ras di pasaran berada di kisaran Rp 41.000–Rp 43.000 per rak. Di Makassar, harganya bisa bergerak jauh lebih lebar, sekitar Rp 38.000 hingga Rp 65.000, tergantung ukuran telur, lokasi pasar, dan rantai distribusinya.

Perbedaan ini memunculkan pertanyaan klasik: jika harga di konsumen tinggi, mengapa keuntungan tak sampai ke tangan peternak? Jawabannya tak sederhana. Di balik sebutir telur yang sampai ke meja makan, ada serangkaian biaya dan margin yang harus dibayar.

Rantai Panjang di Balik Selisih Harga

Harga di tingkat kandang tidak pernah sama dengan harga di agen. Harga agen belum tentu sama dengan harga pedagang. Harga pedagang pun belum tentu sama dengan yang dibayar konsumen.

Selisih ini bukan otomatis berarti ada pihak yang bermain curang. Selisih itu mencakup biaya transportasi, penyortiran, kerusakan, penyimpanan, tenaga kerja, hingga margin perdagangan. Namun, ketika selisihnya terlalu lebar, pertanyaan tentang efisiensi rantai distribusi menjadi wajar.

Sidrap adalah salah satu sentra produksi telur ayam ras di Sulawesi Selatan. Ayam petelur menjadi bagian penting dari ekonomi masyarakat setempat. Pakan, air, dan perawatan kandang harus dipenuhi setiap hari.

Harga Naik, Belum Tentu Peternak Gemuk

Konsumen melihat harga telur. Peternak melihat biaya produksi. Dua angka itu tidak selalu bergerak searah. Harga telur yang naik sedikit, belum tentu keuntungan peternak ikut naik.

Di belakang sebutir telur ada biaya pakan yang besar, bibit ayam (DOC), obat dan vitamin, tenaga kerja, listrik, penyusutan kandang, serta risiko ayam sakit atau produksi turun. Beban terberat ada di harga pakan. Jika harga pakan naik sementara harga telur tertahan, margin peternak semakin tipis. Telur tetap keluar setiap hari, tetapi keuntungan belum tentu ikut keluar.

Telur Tak Bisa Menunggu Harga Bagus

Telur berbeda dengan komoditas lain. Telur diproduksi setiap hari. Ayam tidak bisa diminta berhenti bertelur karena harga sedang turun.

Pakan tetap harus diberikan. Kandang tetap harus dirawat. Telur tetap harus dikeluarkan. Ketika harga turun, produksi tidak bisa langsung dihentikan, sehingga biaya operasional terus berjalan.

Kondisi ini membuat fluktuasi harga menjadi persoalan serius. Peternak tidak berharap harga telur selalu tinggi karena akan membebani konsumen. Yang dibutuhkan adalah harga yang wajar dan berkelanjutan—harga yang membuat konsumen mampu membeli, tetapi peternak masih bisa membayar pakan, memelihara ayam, dan mendapatkan keuntungan yang layak.

Jangan Sampai Peternak Hanya Jadi Mesin Produksi

Jika peternak terus tertekan, dampaknya pada akhirnya kembali ke konsumen. Peternak akan mengurangi populasi ayam. Produksi turun, pasokan berkurang, dan harga kemudian bisa melonjak. Siklus ini berputar dan pada akhirnya merugikan semua pihak.

Untuk mengetahui siapa yang menikmati selisih harga Rp 41 ribu di Sidrap dan Rp 65 ribu di Makassar, perlu dilihat data harga di tingkat kandang, biaya distribusi, margin agen, margin pedagang, hingga harga eceran. Di situlah persoalan sebenarnya berada. Transparansi rantai perdagangan menjadi kunci agar peternak tidak hanya menjadi mesin produksi tanpa mendapatkan imbal balik yang adil.

Sumber: katasulsel.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua