Gempa M7,7 Guncang Nagekeo, Jalur Trans Flores di Barai Putus Total dan Relawan WIZ Terpaksa Terobos Longsor Pakai Motor

Longsor besar menutup total badan Jalan Trans Flores di Barai, Nagekeo, NTT, akibat gempa M7,7.
Penulis: Nurdiansyah
Minggu, 16 Agustus 2026 | 00:48:01 WIB

NAGEKEO — Rute darat satu-satunya yang menghubungkan Kabupaten Ende menuju Bajawa, ibu kota Kabupaten Nagekeo, dipastikan terputus total akibat longsor besar di kawasan Barai. Material tanah dan bongkahan batu raksasa menutupi badan Jalan Trans Flores, membuat kendaraan roda empat mustahil melintas di tengah darurat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat 30 kilometer Timur Laut Mbay.

Gempa tektonik yang terjadi pukul 05.58 WITA tersebut memicu lebih dari 100 kali gempa susulan dan sempat menimbulkan peringatan dini tsunami. Dampaknya, wilayah Nagekeo menjadi titik terparah yang membutuhkan penanganan cepat, sementara logistik justru terhambat oleh kondisi geografis yang memburuk.

Dua Relawan Pilih Terobos Titik Rawan Longsor Susulan

Ahmad dan Suhardi, relawan yang diterjunkan langsung dari posko pusat, tidak menunggu alat berat tiba. Setibanya di lokasi longsor, mereka segera turun dari kendaraan dan berkoordinasi dengan warga setempat, aparat TNI-Polri, serta BPBD untuk mencari celah aman.

Keduanya kemudian mengambil keputusan taktis: memanfaatkan sepeda motor milik warga untuk menembus celah-celah sempit di antara puing longsoran. Langkah ini diambil agar proses evakuasi dan distribusi bantuan awal tidak berhenti di tengah jalan.

"Tantangan di lapangan memang berat karena akses terputus total. Namun, panggilan kemanusiaan untuk saudara-saudara kita di Nagekeo tidak boleh berhenti," ujar Ahmad dari garis depan longsor Barai, Sabtu (15/8/2026).

Logistik Darurat Menumpuk, Distribusi Dialihkan ke Pelabuhan Marapoko

Di tengah pengerahan alat berat untuk membuka badan jalan, para relawan menyiapkan strategi cadangan. Opsi distribusi melalui Pelabuhan Marapoko kini menjadi alternatif utama untuk mengirimkan tenda, makanan siap saji, dan kebutuhan medis ke lokasi pengungsian.

Kepulan debu dan sisa material longsor masih menyelimuti kawasan Barai saat tim WIZ dan Wahdah Peduli memastikan titik-titik pengungsian yang belum tersentuh bantuan. Koordinasi dengan aparat setempat terus dilakukan untuk memetakan jalur aman bagi konvoi logistik berikutnya.

Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi warga yang terjebak di beberapa desa terisolasi masih berlangsung. Para relawan memastikan kebutuhan dasar penyintas menjadi prioritas utama sebelum jalur utama Trans Flores benar-benar bisa dilalui kendaraan roda empat. (*)

Reporter: Nurdiansyah