Breaking

NTP Sulsel Naik 2,14 Persen ke 121,34 pada Juli 2026, Subsektor Perkebunan Rakyat Tumbuh 7,10 Persen

GE
Rabu, 05 Agustus 2026
NTP Sulsel Naik 2,14 Persen ke 121,34 pada Juli 2026, Subsektor Perkebunan Rakyat Tumbuh 7,10 Persen
Petani memanen kelapa sawit di perkebunan rakyat Sulawesi Selatan, seiring NTP gabungan naik 2,14 persen menjadi 121,34 pada Juli 2026.

MAKASSAR — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat kenaikan signifikan pada subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) yang tumbuh 7,10 persen sepanjang Juli 2026. Angka ini menjadi pendorong utama di balik apresiasi NTP gabungan yang naik ke level 121,34 dari posisi 118,80 pada Juni 2026.

Kepala Tim Data Statistik BPS Sulsel, Prayitno, mengungkapkan bahwa kenaikan NTP merupakan indikasi positif bagi daya beli petani. "Kenaikan ini mencerminkan membaiknya tingkat kesejahteraan petani secara umum yang disebabkan oleh meningkatnya harga yang diterima petani dibandingkan dengan harga yang dibayar untuk konsumsi maupun biaya produksi," ujarnya di Makassar, Senin.

Lima Subsektor Tumbuh, Hortikultura Terkoreksi

Dari lima subsektor utama penyusun NTP gabungan, empat di antaranya mencatatkan pertumbuhan. Selain perkebunan rakyat, subsektor perikanan (NTNP) naik 3,41 persen dan peternakan (NTPT) menguat 2,15 persen. Adapun subsektor tanaman pangan (NTPP) tumbuh lebih moderat sebesar 1,75 persen.

Kondisi berbeda terjadi pada subsektor hortikultura (NTPH) yang justru mengalami penurunan cukup dalam, mencapai 7,82 poin. Penurunan ini menjadi penyeimbang laju pertumbuhan NTP secara keseluruhan pada bulan tersebut.

Komoditas Penyebab Tekanan Harga di Tingkat Petani

Prayitno merinci sejumlah komoditas yang memberi andil besar terhadap penurunan indeks harga yang diterima petani. Beberapa di antaranya adalah tomat, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam, cabai merah, jagung manis, dan kacang panjang.

Fluktuasi harga komoditas hortikultura dan hasil peternakan tersebut menjadi perhatian utama BPS dalam pemantauan harga-harga perdesaan. Meski demikian, secara agregat, selisih antara pendapatan petani dan biaya pengeluaran rumah tangga serta produksi masih berada di zona positif.

Data ini dihimpun berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan yang dilakukan BPS Sulsel sepanjang Juli 2026. NTP merupakan indikator penting untuk mengukur kemampuan tukar produk pertanian terhadap barang konsumsi dan biaya produksi yang dikeluarkan petani.

Sumber: makassar.antaranews.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua